KEDIRI – Perkembangan teknologi digital tidak hanya mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, tetapi juga mengubah pola interaksi di media sosial. Salah satu fenomena yang kini semakin banyak dijumpai, terutama di kalangan Generasi Z (Gen Z), adalah penggunaan second account atau akun kedua di Instagram.
Berbeda dengan akun utama yang umumnya dimanfaatkan untuk membangun citra diri atau personal branding, akun kedua justru menjadi ruang yang lebih privat. Di sana, pengguna merasa lebih leluasa membagikan cerita, aktivitas sehari-hari, hingga berbagai hal yang bersifat personal tanpa khawatir dinilai oleh banyak orang.
Akun kedua biasanya diatur dalam mode privat dengan jumlah pengikut yang terbatas. Sebagian besar pengikutnya merupakan keluarga, sahabat, atau teman dekat yang telah dipilih secara khusus oleh pemilik akun.
Kondisi tersebut membuat pengguna merasa lebih nyaman dalam mengekspresikan diri. Konten yang diunggah pun cenderung lebih spontan, mulai dari foto keseharian (photo dump), curahan hati, hingga berbagai momen sederhana yang mungkin tidak pernah dipublikasikan di akun utama.
Menjadi Ruang Aman di Tengah Tekanan Media Sosial
Fenomena second account muncul sebagai respons terhadap tingginya tekanan di media sosial. Banyak pengguna, khususnya anak muda, merasa akun utama menuntut mereka untuk selalu menampilkan sisi terbaik kehidupan, mulai dari prestasi, penampilan, hingga gaya hidup.
Akibatnya, tidak sedikit yang merasa harus menjaga citra agar tetap terlihat sempurna di mata orang lain.
Melalui akun kedua, tekanan tersebut berkurang karena audiens yang melihat unggahan merupakan orang-orang terdekat yang dianggap lebih memahami kondisi pribadi pemilik akun.
Bagi sebagian pengguna, akun kedua juga menjadi media untuk berbagi cerita ketika menghadapi masalah atau tekanan emosional. Dukungan yang diberikan teman dekat melalui komentar maupun pesan pribadi sering kali membantu mengurangi beban pikiran dan memberikan rasa diterima.
Selain itu, komunikasi di akun kedua biasanya berlangsung lebih terbuka sehingga hubungan antarpengguna terasa lebih akrab dibandingkan interaksi di akun utama yang memiliki jangkauan lebih luas.
Risiko Oversharing dan Ketergantungan Validasi
Meski memberikan rasa aman, penggunaan second account tetap memiliki sejumlah risiko yang perlu diwaspadai.
Salah satunya adalah kecenderungan melakukan oversharing, yakni membagikan informasi pribadi secara berlebihan. Perasaan nyaman sering kali membuat seseorang tanpa sadar mengungkapkan hal-hal yang seharusnya tetap menjadi ranah pribadi.
Tidak jarang, pengguna baru menyadari dampaknya setelah informasi tersebut telanjur tersebar di media sosial.
Selain itu, kebiasaan mencurahkan perasaan di akun kedua juga berpotensi menimbulkan ketergantungan terhadap validasi dari orang lain. Pengguna bisa mulai mengharapkan respons berupa komentar, tanda suka (likes), atau dukungan setiap kali mengunggah cerita.
Ketika respons yang diharapkan tidak diperoleh, kondisi tersebut dapat memengaruhi suasana hati, bahkan memunculkan rasa kecewa atau tidak dihargai.
Bijak Menggunakan Media Sosial
Second account pada dasarnya dapat menjadi ruang yang sehat untuk mengekspresikan diri apabila digunakan secara bijaksana. Namun, pengguna tetap perlu memahami batasan mengenai informasi pribadi yang layak dibagikan di media sosial.
Apabila menghadapi persoalan emosional yang berkepanjangan, berdiskusi secara langsung dengan keluarga, sahabat, atau tenaga profesional tetap menjadi pilihan yang lebih tepat dibandingkan bergantung pada respons di media sosial.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah salah satu sarana komunikasi. Menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan interaksi nyata menjadi langkah penting agar media sosial tetap memberikan manfaat tanpa mengganggu kesehatan mental maupun kehidupan pribadi.(red/lis)
0 Komentar